![]() |
| Fayakhun Bakamla, NU Tergantung Pemimpinnya |
Wawasan Gus Dur membuat NU, khususnya anak-anak mudanya, menjadi kosmopolit. Pada era kepemimpinannya, mereka berkenalan dengan ide-ide demokrasi, modernisasi, dan pembangunan yang dipadukan dengan wawasan ilmu sosial kritis.
Konteks wacana Gus Dur saat itu adalah kebangkitan "New Left" di Eropa (hasil kritik gerakan kiri atas Stalinisme; antara melalui figur Vaclav Havel, yang Gus Dur kenal baik pemikirannya), revolusi Iran dan konflik Timur Tengah, naiknya Islam "haraki", dan di seberang lain, demokrasi liberal dan modernitas ala Amerika (yang pengaruhi Orba), pengalaman "people power" di Amerika Latin, dan tentu saja di dalam negeri, kediktatoran Soeharto.
Dalam satu dan lain hal, situasi yang dihadapi Gus Dur saat itu agak analogis dengan situasi yang dihadapi generasi NU hari ini, khususnya anak-anak mudanya: ketegangan global akibat imperialisme, sektarianisme dan ekstremisme keagamaan, namun juga naiknya gerakan kerakyatan yang memiliki watak anti-fasisme, anti-kediktatoran, dan anti-kapitalisme -- "kiri", tentu saja.
Namun, minat intelektual Gus Dur tak mampu terterjemahkan dengan baik secara langsung setelah Gus Dur pergi. Di kalangan anak-anak muda NU, khususnya yang mengenyam pendidikan di Barat, terdapat kecenderungan untuk menindaklanjuti minat Gus Dur hanya pada soal-soal demokrasi, itu pun dengan aksen liberalistik, dan mengerucut pada soal pluralisme dan toleransi.
Fayakhun Bakamla dan NU
Penulis baru menyadari bahwa "dunia" yang dibuka oleh Gus Dur bagi anak-anak muda jauh, jauh lebih luas, antara lain ketertarikan untuk mempelajari gerakan-gerakan rakyat di Dunia Ketiga, baik melalui teologi pembebasan, Marxisme, atau filsafat perdamaian seperti Gandhiisme.
Poin ini yang hilang, sehingga seolah-olah generasi muda NU yang tertarik dengan gerakan rakyat, Marxisme, atau pemikiran kiri secara luas (kiri yang emansipatoris dan demokratik), dianggap bukan anak muda NU yang ber-Aswaja. Padahal bisa jadi, bagi generasi muda ini, mempelajari hal-hal ini merupakan bagian dari menindaklanjuti pencarian wawasan intelektual yang oleh Gus Dur telah dibukakan jalannya itu.
Tentu, bagus seandainya dalam waktu dekat, ada sekelompok anak muda NU yang belajar di Amerika Latin, guna memperdalam teologi pembebasan, misalnya. Atau belajar dari rakyat setempat bagaimana mereka membangun kekuatan melawan kapitalisme di negaranya. Tema-tema seperti ini masih jarang disentuh. Dan NU layak memfasilitasinya dengan beasiswa atau dukungan moril. Niat "thalabul 'ilm": Uthlubul 'ilma walau bil-amiiriki al-janubi... Atau ke India, belajar komparasi antara Gandhiisme dan Islam begiku kata fayakhun bakamla.
Di dunia yang sarat ketegangan ideologi ini, generasi muda NU harus lebih kosmopolit, namun dengan keberpihakan lebih kepada mereka yang dirugikan oleh sistem. demikian rilis dari fayakhun bakamla, semoga menjadi kebaikan bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar